Hari ini tepatnya tanggal 31 Desember 2015, aku menemukan
sebuah surat di dekat jendela kamarku. Surat ini terselimuti dalam sebuah
amplop berwarna putih tanpa disertai perangko dan alamat pengirim. Nama
pengirimnyapun sangat misterius. Hanya tertulis Anonim di sudut kiri atas
amplop putih dengan tinta berwarna emas.
Imajinasi mengantarkanku ke dalam rasa penasaran. Aku
membuka surat itu dan di dalamnya tertulis rangkaian kata yang mungkin
ditujukan untukku. Mungkin saja. Karena pengirimnya tidak memberikan alamat
tujuan.
Surat ini aku tujukan
untukmu. Kamu adalah orang yang aku pilih untuk menyebarkan surat ini kepada
publik. Suka atau tidak suka aku tidak peduli. Aku bahkan tidak peduli apa
tanggapanmu untuk surat ini. Aku adalah anonym yang hidup di zaman masa depan.
Tepatnya di tahun 4011.
Semua teknologi di
zaman ini sudah sangat maju. Bahkan jika aku membawanya ke masamu, kau akan
berpikir bahwa ini adalah permainan sihir. Surat yang datang kepadamu bahkan
telah menjelajah ruang dan waktu. Tujuanku menulis surat ini adalah untuk
memperingati orang-orang yang hidup di masamu agar mengubah sesuatu yang telah
terjadi di zamanku.
Perlu kamu dan manusia
disekitarmu ketahui. Dunia yang kita tinggali sangatlah terbatas. Ledakan
jumlah spesies yang menamai dirinya manusia semakin meraja lela. Jika
dimasukkan dalam perhitungan statistic akan tergambar sebuah grafik yang
melesat tinggi. Kecerdasan rata-rata manusia semakin tinggi ditambah lagi
kemajuan teknologi berbagai bidang dan tingkat kesehatan semakin menambah angka
harapan hidup manusia dari waktu ke waktu. Jumlah manusia semakin banyak
mengakibatkan tempat tinggal di bumi semakin sempit. Dapat diibaratkan hanya
satu meter untuk setiap manusia. Tuntutan hidup untuk setiap manusia semakin
besar. Populasi yang besar ini
membawa dampak pada sumber daya alam di bumi
kita.
Semakin hari, semakin
banyak manusia-manusia yang membutuhkan makanan. Namun lahan semakin sempit.
Semakin lama, semakin banyak sumber daya alam yang dikeruk dari perut bumi
untuk memenuhi kebutuhan energi di bumi ini. Perlahan-lahan semuanya semakin
menipis. Berbanding terbalik dengan jumlah populasi yang menyebut dirinya
manusia.
Perlu kamu ketahui.
Saat aku menuliskan surat ini. Dunia dalam keadaan kacau-balau. Perang terjadi
dimana-mana. Perebutan sumber daya terjadi dengan hebohnya. Batas antar wilayah
tidak lagi tergambar jelas. Keserakahan menutup moral manusia.
Banjir, tanah longsor,
kebakaran hutan dan polusi hebat ikut meramaikan dunia ini.Bencana alam terjadi
dimana-mana. Ditambah lagi dengan perubahan iklim yang tidak menentu. Aku
menyebutnya ini sebagai titik jenuh bumi. Bumi berusaha mencapai
keseimbangannya kembali agar dapat bertahan lebih lama lagi.
Habisnya populasi
hewan di dunia memaksa kami menyesuaikan diri menjadi manusia herbivore yang
hanya memakan tumbuh-tumbuhan. Semakin lama, dedaunan yang kami temui semakin sedikit. Dengan kemajuan teknologi
rekayasa, kami beralih ke makanan sintetis yang di modifikasi dari berbagai
unsur yang tersisa di bumi.
Beberapa manusia serakah
bahkan tidak puas dengan ini. Mereka membentuk sebuah aturan gila yang
menerapkan sistem memakan sesamanya. Dengan jalan pengundian setiap bulan satu
manusia dikorbankan untuk memenuhi kebutuhan protein dan energy di dalam tubuh
laknat mereka.
Mungkin dirimu akan
bertanya, bagaimana kondisi sosial disini? Kamu tidak bertanyapun aku akan
memberitahu bahwa kondisi sosial sangat buruk. Perampokan, penculikan,
pembunuhan terjadi dimana-mana. Tidak ada lagi yang namanya nurani. Agama hanya
sebatas identitas diri tanpa arti.
Betapa mengerikannya
hidup di zaman ini. Demi mengendalikan kekacauan ini. Kami para ilmuwan yang
tergabung dalam sebuah lembaga kesejahteraan manusia berkumpul di suatu tempat.
Disebuah tempat rahasia yang tidak perlu kamu ketahui. Aku termasuk salah satu
orang yang ikut dalam pertemuan itu.
Demi mempertahankan
kelestarian dunia dan isinya. Kami mengambil suatu langkah tindakan yang tidak
manusiawi. Kami menciptakan alat pemusnah massal yang dijatuhkan dalam sebuah
Negara. Ketika alat itu di uji cobakan di sebuah tempat yang tidak perlu kamu
ketahui. Hasilnya hanya efek jangka pendek yang tidak cukup memperbaiki
keadaan. Meskipun populasi manusia berkurang seperenam penduduk bumi, tetap
saja sumber daya belum teratasi.
Rapat demi rapat kami
lalui. Berbagai uji coba telah dilakukan. Hingga akhirnya kami menemukan sebuah
cara. Mereka menginginkan, tepatnya dimulai dari zamanmu di tahunmu akan dilepaskan sejenis virus. Virus
yang belum pernah ada yang menyebabkan setengah penduduk dunia tidak mampu
berkembang biak. Penyebaran acak segera dilakukan.
Namun, aku
satu-satunya orang yang tidak setuju dengan tindakan ini. Apa yang terjadi pada
kami, memang sebagian besar disebabkan oleh masa lalu. Tapi sangat tidak adil
bagi kalian jika tidak terlebih dahulu mengetahui ini dan berusaha untukmemperbaiki
dan menjaga lingkungan kalian. Aku berhasil melobi mereka untuk menunda
penyebaran virus itu sampai tenggang waktu yang tidak perlu kamu tahu.
Melalui surat ini, aku
berharap kamu sebagai orang yang terpilih menyampaikan isinya kepada manusia di
zamanmu. Mulai dari dibacanya surat ini rawat dan peliharalah bumi ini,
kendalikan keserakahan dan nafsu kalian. Jika belum mampu melakukan hal yang
besar, mulailah dari hal sederhana. Hemat dan bertanggung jawablah atas
pemakaian sumber daya alam di zamanmu, ciptakanlah bahan-bahan alternatif yang
ramah untuk lingkunganmu. Rawatlah bumi yang kalian tinggali. Ubalah masa depan
kami. Semoga disaat aku kembali di zamanku, aku melihat semuanya telah berubah.
Perlu kamu ketahui,
aku mengawasimu dari sebuah tempat di dalam suatu zaman. Lakukanlah sesuai yang
aku minta. Bacalah peringatan dibalik surat ini.
Salamku untuk penduduk
2016. ANONIM.