Kamis, 31 Desember 2015

Surat Masa Depan

Hari ini tepatnya tanggal 31 Desember 2015, aku menemukan sebuah surat di dekat jendela kamarku. Surat ini terselimuti dalam sebuah amplop berwarna putih tanpa disertai perangko dan alamat pengirim. Nama pengirimnyapun sangat misterius. Hanya tertulis Anonim di sudut kiri atas amplop putih dengan tinta berwarna emas.

Imajinasi mengantarkanku ke dalam rasa penasaran. Aku membuka surat itu dan di dalamnya tertulis rangkaian kata yang mungkin ditujukan untukku. Mungkin saja. Karena pengirimnya tidak memberikan alamat tujuan.

Surat ini aku tujukan untukmu. Kamu adalah orang yang aku pilih untuk menyebarkan surat ini kepada publik. Suka atau tidak suka aku tidak peduli. Aku bahkan tidak peduli apa tanggapanmu untuk surat ini. Aku adalah anonym yang hidup di zaman masa depan. Tepatnya di tahun 4011.

Semua teknologi di zaman ini sudah sangat maju. Bahkan jika aku membawanya ke masamu, kau akan berpikir bahwa ini adalah permainan sihir. Surat yang datang kepadamu bahkan telah menjelajah ruang dan waktu. Tujuanku menulis surat ini adalah untuk memperingati orang-orang yang hidup di masamu agar mengubah sesuatu yang telah terjadi di zamanku.

Perlu kamu dan manusia disekitarmu ketahui. Dunia yang kita tinggali sangatlah terbatas. Ledakan jumlah spesies yang menamai dirinya manusia semakin meraja lela. Jika dimasukkan dalam perhitungan statistic akan tergambar sebuah grafik yang melesat tinggi. Kecerdasan rata-rata manusia semakin tinggi ditambah lagi kemajuan teknologi berbagai bidang dan tingkat kesehatan semakin menambah angka harapan hidup manusia dari waktu ke waktu. Jumlah manusia semakin banyak mengakibatkan tempat tinggal di bumi semakin sempit. Dapat diibaratkan hanya satu meter untuk setiap manusia. Tuntutan hidup untuk setiap manusia semakin besar. Populasi yang besar ini 
membawa dampak pada sumber daya alam di bumi kita.

Semakin hari, semakin banyak manusia-manusia yang membutuhkan makanan. Namun lahan semakin sempit. Semakin lama, semakin banyak sumber daya alam yang dikeruk dari perut bumi untuk memenuhi kebutuhan energi di bumi ini. Perlahan-lahan semuanya semakin menipis. Berbanding terbalik dengan jumlah populasi yang menyebut dirinya manusia.

Perlu kamu ketahui. Saat aku menuliskan surat ini. Dunia dalam keadaan kacau-balau. Perang terjadi dimana-mana. Perebutan sumber daya terjadi dengan hebohnya. Batas antar wilayah tidak lagi tergambar jelas. Keserakahan menutup moral manusia.

Banjir, tanah longsor, kebakaran hutan dan polusi hebat ikut meramaikan dunia ini.Bencana alam terjadi dimana-mana. Ditambah lagi dengan perubahan iklim yang tidak menentu. Aku menyebutnya ini sebagai titik jenuh bumi. Bumi berusaha mencapai keseimbangannya kembali agar dapat bertahan lebih lama lagi.

Habisnya populasi hewan di dunia memaksa kami menyesuaikan diri menjadi manusia herbivore yang hanya memakan tumbuh-tumbuhan. Semakin lama, dedaunan yang kami temui  semakin sedikit. Dengan kemajuan teknologi rekayasa, kami beralih ke makanan sintetis yang di modifikasi dari berbagai unsur yang tersisa di bumi.

Beberapa manusia serakah bahkan tidak puas dengan ini. Mereka membentuk sebuah aturan gila yang menerapkan sistem memakan sesamanya. Dengan jalan pengundian setiap bulan satu manusia dikorbankan untuk memenuhi kebutuhan protein dan energy di dalam tubuh laknat mereka.

Mungkin dirimu akan bertanya, bagaimana kondisi sosial disini? Kamu tidak bertanyapun aku akan memberitahu bahwa kondisi sosial sangat buruk. Perampokan, penculikan, pembunuhan terjadi dimana-mana. Tidak ada lagi yang namanya nurani. Agama hanya sebatas identitas diri tanpa arti.

Betapa mengerikannya hidup di zaman ini. Demi mengendalikan kekacauan ini. Kami para ilmuwan yang tergabung dalam sebuah lembaga kesejahteraan manusia berkumpul di suatu tempat. Disebuah tempat rahasia yang tidak perlu kamu ketahui. Aku termasuk salah satu orang yang ikut dalam pertemuan itu.

Demi mempertahankan kelestarian dunia dan isinya. Kami mengambil suatu langkah tindakan yang tidak manusiawi. Kami menciptakan alat pemusnah massal yang dijatuhkan dalam sebuah Negara. Ketika alat itu di uji cobakan di sebuah tempat yang tidak perlu kamu ketahui. Hasilnya hanya efek jangka pendek yang tidak cukup memperbaiki keadaan. Meskipun populasi manusia berkurang seperenam penduduk bumi, tetap saja sumber daya belum teratasi.

Rapat demi rapat kami lalui. Berbagai uji coba telah dilakukan. Hingga akhirnya kami menemukan sebuah cara. Mereka menginginkan, tepatnya dimulai dari zamanmu di  tahunmu akan dilepaskan sejenis virus. Virus yang belum pernah ada yang menyebabkan setengah penduduk dunia tidak mampu berkembang biak. Penyebaran acak segera dilakukan.

Namun, aku satu-satunya orang yang tidak setuju dengan tindakan ini. Apa yang terjadi pada kami, memang sebagian besar disebabkan oleh masa lalu. Tapi sangat tidak adil bagi kalian jika tidak terlebih dahulu mengetahui ini dan berusaha untukmemperbaiki dan menjaga lingkungan kalian. Aku berhasil melobi mereka untuk menunda penyebaran virus itu sampai tenggang waktu yang tidak perlu kamu tahu.

Melalui surat ini, aku berharap kamu sebagai orang yang terpilih menyampaikan isinya kepada manusia di zamanmu. Mulai dari dibacanya surat ini rawat dan peliharalah bumi ini, kendalikan keserakahan dan nafsu kalian. Jika belum mampu melakukan hal yang besar, mulailah dari hal sederhana. Hemat dan bertanggung jawablah atas pemakaian sumber daya alam di zamanmu, ciptakanlah bahan-bahan alternatif yang ramah untuk lingkunganmu. Rawatlah bumi yang kalian tinggali. Ubalah masa depan kami. Semoga disaat aku kembali di zamanku, aku melihat semuanya telah berubah.

Perlu kamu ketahui, aku mengawasimu dari sebuah tempat di dalam suatu zaman. Lakukanlah sesuai yang aku minta. Bacalah peringatan dibalik surat ini.
Salamku untuk penduduk 2016. ANONIM.

Adrenalinku terpacu ketika aku membaca sebuah peringatan dibalik surat ini. Anonim ini mengancam bahwa kertas ini dilengkapi kamera mikro yang mengawasiku. Jika aku tidak menyebarkan surat ini maka aku akan meledak bersama surat ini. Negaraku akan musnah karena keapatisanku. Tapi jika aku menyebarkan surat ini. Maka surat ini akan hilang bagai debu yang tersapu angin.